Titian Langkah Mujahadah

Titian Langkah Mujahadah

oleh H. Yanuardi Lc, M.Pd.I

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-’Ankabut: 69).

Tiga langkah penting komitmen diri yang dengannya hidup menjadi berarti. Yaitu: “Iman yang tulus (banar), ibadah yang benar dan mujahadah. Tiga hal ini  akan membuahkan cahaya dan kelezatan yang Allah percikan ke dalam hati siapa saja yang la kehendaki.

Keimanan Yang Benar

Iman yang benar berarti mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan beramal dengan anggota badan. Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata, “Kesepakatan para sahabat, tabi’in, dan generasi sesudah mereka yang kami ketahui, mengatakan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan niat, salah satu di antara ketiganya tidak mencukupi kecuali dengan yang lain.” Imam Ahmad berkata, “Karena itu, menurut ahlusunah ungkapan yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuat termasuk syiar-syiar Sunah.”
Nash-nash Al-Quran dan hadits yang menunjukkan pengertian di atas sangat banyak dan terkenal. Mereka sepakat bahwa orang yang mengikrarkan keimanan dengan lisannya secara nyata, namun mendustakan dengan hatinya, tidak termasuk mukmin. Orang seperti inilah yang disebut munafik, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

Dan di antara sebagian manusia ada segolongan yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.” Padahal mereka tidak termasuk orang-orang yang beriman (Al-Baqarah: 8 ).

Dalam firman-Nya yang lain Allah menjelaskan bahwa bagi mereka disediakan azab yang lebih berat daripada orang yang jelas-jelas menentang (kufur), dengan memasukkan mereka pada tingkatan neraka yang paling rendah,

Sesungguhnya orang-orang munafik berada pada tingkatan yang paling rendah dari neraka (An-Nisa‘: 145).

Para ulama sepakat bahwa pengakuan dengan hati saja tidak cukup untuk merealisasikan makna iman. Karenanya, pengakuan harus diikuti ikrar dengan lisan. Orang-orang Ahli Kitab dahulu mengenal dan mengakui Nabi kita Saw., namun mereka tidak beriman kepadanya. Allah berfirman,

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mengenal-nya (Muhammad) sebagaimana mengenal anak-anak mereka sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman (Al-An’am: 20). Bahkan iblis juga mengenal Allah, tetapi ia tetap menjadi pemimpin orang-orang kafir.

Para ulama sepakat bahwa apabila seorang hamba telah membenarkan dengan hatinya, dan mengikrarkan dengan lisannya, namun menolak untuk beramal, maka ia termasuk orang yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan berhak mendapatkan ancaman siksa yang Allah sebutkan dalam kitab suci-Nya dan diberitahukan oleh Rasul-Nya Saw. Selain itu, ia juga mendapat hukuman di dunia.

Jika kita telah memahami ini, maka ketahuilah bahwa iman yang benar adalah mencakup ketiga makna di atas, tanpa terpisah-pisah. Allah Swt. berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, Mereka itulah orang-orang yang benar (Al-Hujurat: 15).

Ibadah yang Tulus ( benar)

Ibadah yang benar adalah buah dari keimanan yang benar. Para ulama mendefinisikan bahwa ibadah adalah sebuah kata yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan lahir maupun batin. Ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhai Allah Swt. dan untuk itulah Allah menciptakan makhluk-Nya, Sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku (Adz-Dzariyat: 56). Untuk tujuan itu pula Allah mengutus rasul-rasul-Nya,

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu,” maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya (An-Nahl: 36).

Allah menjadikan ibadah itu sebagai sesuatu yang harus tetap dilakukan oleh Rasul-Nya sampai mati. Allah berfirman,
Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang al-yaqin (kematian) (Al-Hijr: 99).

Secara keseluruhan, agama termasuk ibadah berdasarkan hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Hanya, ibadah yang diperintahkan mencakup dua makna sekaligus, yaitu kerendahan dan kecintaan. Ibadah mengandung makna puncak kehinaan dan kecintaan kepada Allah Swt.

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai A-lah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (At-Taubah: 24).

Jika ibadah yang benar adalah ibadah yang mencakup makna-makna di atas, maka ibadah itu tidak benar dan tidak diterima di sisi Allah apabila belum dilakukan oleh hamba sesuai dengan syariat Allah. Demikian itu karena Allah tidak menerima amal perbuatan maupun ucapan, kecuali yang disyariatkan dan diperintahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah Swt. tidak akan menerima ibadah-ibadah baru yang diada-adakan oleh hamba-hamba-Nya. Rasulullah Saw. bersabda, Barangsiapa membuat hal-hal yang baru (yang tidak termasuk) dalam agama kami, maka ia tertolak. Dalam riwayat lain, Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dalam ajaran agama kami, maka ia tertolak. Dalam riwayat yang lain, Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah dhalalah (sesat).

Mujahadatun nafs wal hawa

Ibadah yang benar tidak mungkin diwujudkan dan dicapai kecuali dengan mujahadatun nafs wal hawa (bersungguh-sungguh mengendalikan diri dan memerangi nafsu). Rasulullah telah menjelaskan hakikat mujahadah ini dengan sabdanya, Mujahid adalah seseorang yang berjihad melawan diri dan hawa nafsunya (HR. Ahmad). Berjihad melawan diri adalah mengarahkannya kepada perintah Allah dalam segala hal, di antaranya berjihad melawan setan dan musuh.
Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj (22) : 77-78)

Langkah-langkah Mujahadah

Langkah pertama dalam mujahadah adalah beriman kepada Allah, mengesakan-Nya, dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad Saw. Dalam lingkungan Islam terkadang orang tidak menyadari bahwa masalah ini termasuk dalam bab mujahadah, sehingga ia tidak perlu menyebutnya. Ini jelas kesalahan besar. Sesuatu yang paling besar adalah jika seseorang mampu beralih dari kekafiran menuju keimanan atau menyatakan imannya pada lingkungan yang menentang iman dan melecehkan pemeluknya. Allah berfirman,

Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya (At-Taghabun: 11).

Langkah kedua adalah menjalankan kewajiban-kewajiban sesuai dengan waktunya, baik ibadah mahdhoh atau ghoir mahdhoh, seperti: shalat, puasa, zakat, haji, nikah, bermuamalah dan lain-lain. Semua perintah itu adalah ukuran dari seberapa kuatnya seseorang bersungguh-sugguh dalam ketaatan. Beramal hendaknya jangan seadanya. Bersungguh-sunguhlah dalam keadaan apapun dan dalam melakukan amalan apa saja. Dalam sebuah Hadist Qudsi: “Dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata, Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya Allah berfirman: Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hambaKu senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan-amalan sunnat, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintai-Nya, maka Akulah yang menjadi pendengarannya dan sebagai tangan yang digunakannya untuk memegangnya dan kaki yang dia pakai untuk berjalan dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Kukabulkan, dan jika berlindung kepada-Ku pasti Ku lindungi.’’

Langkah ketiga adalah mengendalikan diri untuk selalu melaksanakan hal-hal yang bersifat azimah (ibadah-ibadah dalam bentuknya yang ideal) serta mentarbiahkannya dengan amal-amal berat yang bermanfaat, seperti: khalwat (menyendiri), diam kecuali dalam hal-hal yang mewajibkan berbicara, begadang malam untuk beribadah, shalat, tilawah, zikir, lapar karena melakukan puasa pada hari-hari yang disunahkan, dan amal-amal lain yang disyariatkan.

Langkah kelima adalah perenungan diri, menata hati, menyingkap penyakit-penyakit hati, dan mengobatinya. Inilah langkah terakhir dalam mujahadah, sekaligus merupakan salah satu hasilnya yang utama. Dua langkah terakhir inilah yang mendominasi pembahasan dan pembicaraan banyak kalangan tentang mujahadah.

Urgensi Mujahadah bagi kehidupan

Mujahadah adalah syarat mendapat petunjuk. Hidayah atau petunjuk Allah hanya diberikan kepada siapa yang sanggup bermujahadah ; berusaha bersungguh-sungguh dalam menunaikan tanggungjawab agama yaitu tanggungjawab melaksanakan tuntunan keimanan dan amal-amal soleh. Berasaskan hakikat ini Allah Azza wa Jalla membimbing rasulullah s.a.w. dalam membuat perubahan dalam diri para sahabat r.a. dari kondisi Jahiliyyah kepada Islam melalui proses tazkiyyah (menyucikan diri dari aqidah yang sesat dan akhlak yang buruk) dan tarbiyyah ( mempelajari dan membina keimanan yang benar dan membentuk perilaku yang terpuji) dengan cara bermujahadah.

Mereka bermujahadah melawan kejahilan dengan berlomba-lomba menghadiri majlis ilmu bersama rasulullah s.a.w. Mereka bermujahadah membersihkan akhlak-akhlak mazmumah dengan mengisi dengan akhlak mahmudah dengan sentiasa membaca al-quran, berqiamullail dan bersabar menahan tentangan dari kafir Quraisy.

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, QS. Al-Jumu’ah [62:2]

Mujahadah adalah asas perubahan. Metodologi merubah manusia yang dilakukan oleh nabi s.a.w. ialah dengan memastikan para sahabat membersihkan jahiliyyah i’tiqad dan akhlak dalam diri dengan cara menuntut ilmu, membina iman dan akhlak mahmudah melalui bermujahadah nafsu untuk menuntut ilmu, mujahadah nafsu untuk melakukan ibadah khusus kepada Allah seperti qiamullail dan membaca al-Quran dan mujahadah diri untuk melakukan amal-amal soleh seperti bersedakah, berdakwah dan membimbing sahabat-sahabat yang baru memeluk Islam. Dalam surah al-Ankabut ayat 2 Allah menjelaskan tentang hakikat kehidupan didunia, hakikat keimanan dan amal-amal soleh. Dunia pentas ujian dan Akhirat tempat pembalasan. Allah berfirman:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Qs Al-Ankabut:2
Hidup di dunia sebagai tempat ujian merupakan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Inilah sunnatullah dan kehendak Allah yang tidak ada seorangpun terlepas darinya. Umat-umat terdahulu dikalangan para nabi diuji untuk beriman kepada Allah, beramal soleh dengan mengajak manusia agar beriman dan melakukan amal-amal kebaikan. Ujian hidup ini menjadi pengukur dalam membuktikan siapakah golongan yang beriman dan siapakah golongan yang kufur dan munafik.

Mujahadah adalah syarat datangnya kejayaan. Untuk memastikan kejayaan dalam mengharungi ujian Allah ini manusia perlu beriman dan bermujahadah untuk melakukan amal-amal soleh dan bersabar menanggung ujian berdakwah dan berjihad dijalan Allah.

“dan Barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Qs. Al-Ankabut (29:6)

Dalam surah al-`Ankabut ini Allah menceritakan kisah para nabi yang berjihad dan bermujahadah melakukan amal soleh yang puncaknya ialah berjihad menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Jalan para nabi inilah menjadi jalan yang lurus, jalan golongan yang mendapat hidayah Allah yang perlu dilalui oleh setiap orang yang beriman.

Bermujahadah merupakan sifat terpenting yang perlu ada kepada siapa yang ingin mendapat hidayah Allah, ingin memantapkan keyakinan dan keimanan di dalam hati, ingin membentuk sifat-sifat dan akhlak unggul dalam diri dan yang menginginkan kejayaan hakiki di akhirat nantin. Gelar mujahid dan mendapat pahala sebagai syahid merupakan setinggi-tinggi gelar yang diimpikan oleh setiap orang yang beriman.
Meninggalkan Jihad merupakan sifat munafik. Sikap berdiam diri terhadap maksiat dan kemungkaran, meninggalkan golongan yang berdakwah kepada Allah dan tidak memberi dukungan kepada usaha mereka adalah ciri-ciri seorang yang munafik dan berpura-pura beriman kepada Allah. Golongan ini lebih mementingkan  kehidupan dunia, lebih mementingkan keredhaan manusia yang kafir dan fasik dan melupakan kehidupan negeri akhirat.

dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya Kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?. QS. Al-Ankabut (29:10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>